Member Area
IMO kampanyekan "Go to Sea" PDF Print E-mail
Written by admin   
Monday, 16 March 2009
London - Sidang organisasi International Maritime Organisation, (IMO) , organisasi
PBB yang mengatur kemaritiman mengkampanyekan "Go To Sea" dalam rangka menyambut
Hari Maritim Dunia (World Maritime Day) tahun 2009.

Atase Perhubungan KBRI London Hadi Supriyono, kepada koresponden Antara London
mengatakan sidang tersebut dipimpin Sekjen IMO E. Mitropoulos, bertempat di IMO Head
Quarter, Embankment, London. Dikatakannya dalam pembukaan sidang, Sekjen IMO menghimbau perlunya kampanye "Go To
Sea" kepada para pemuda untuk bekerja di kapal.

Diharapkannya dengan tema kampanye "Go To Sea" akan dapat meningkatkan persepsi
masyarakat tentang industri maritim, serta pemahaman para pemuda tentang keuntungan
yang ditawarkan dengan karir sebagai pelaut.

Selain itu diharapkan akan terjadi pergeseran nilai kualitas hidup di laut dengan
pendekatan tawaran karir alternative di darat.

Menurut Hadi Supriyono, dalam kesempatan itu Sekretaris Jenderal IMO, juga
mengingatkan pentingnya pelayaran yang keselamatan, aman dan bersih lingkungan dalam
system perdagangan dunia.

Dalam sidang IMO itu juga disampaikan untuk menyambut Hari Maritim Dunia (World
Maritime Day) tahun 2009, Sekjen IMO mengusulkan tema "Climate Change: is challenge
for IMO too".

Dikatakannya pemilihan tema itu telah mendapatkan persetujuan dari sidang Council.

Selain itu Hadi Supriyono mengatakan bersama rekan dari Departemen Perhubungan,
mengikuti kelompok kerja yang membahas Contact Point on Piracy off coast of Somalia
di gedung IMO.

Dalam kelompok kerja kali ini yang menjadi koordinator adalah dari kantor
kementerian luar negeri Inggeris (FCO - Foreign & Commonwealth Office) dibahas
langkah-langkah konkrit dalam upaya menekan piracy di Golf of Aden dan perairan
lepas pantai Somalia.

Posisi Indonesia dalam kelompok kerja adalah untuk mengamankan kedaulatan RI bila
ada upaya pengaturan yang mungkin menyimpang dari UNCLOS 1982, ujarnya.

Pencegahan kebakaran

Sementara itu dalam sidang ke-53 "Sub-Committee on Fire Protection" yang dipimpin
J.C. Cubisino (Argentina) dan Wakil Pimpinan C. Abbate (Italia), dihadiri delegasi
dari 56 Negara anggota termasuk delegasi RI, dua Negara Anggota Asosiasi, dan
organisasi Antar Pemerintah, serta 16 Organisasi Non-Pemerintah.

Dalam sidang itu delegasi Indonesia terdiri atas Capt. Jimmy Abubakar Nikijuluu,
Sesditjen Hubungan Laut, Ditjen Hubla, Hadi Supriyono, Atase Perhubungan KBRI London
dan Karolus Sengadji, Dit. KPLP, Ditjen Hubla

Dalam kelompok kerja dua dibahas tentang "Measures to prevent explosions on oil and
chemical tankers transporting low-flashpoint cargoes" dipimpin Capt. D. Morris dari
Inggris.

Menurut Hadi Supriyono, dalam sidang kelompok kerja dua bertugas memperhatikan hal
teknik dan operasional yang dilakukan mencegah terjadinya kebakaran dan ledakan di
kapal tanker minyak dan kapal tanker chemical yang membawa muatan dengan titik bakar
yang rendah.

Untuk itu perlu diambil langkah operasional dalam kaitannya dengan faktor manusia
serta meningkatkan nilai tambah pencegahan kebakaran dan ledakan terutama dalam
kaitannya dengan muat-bongkar muatan, pembersihan tanki dan pemeriksaan tanki.

Dikatakannya Direktorat Teknis Ditjen Hubla perlu mencermati kemungkinan terjadinya
kesulitan dalam implementasi pengaturan dan secara dini dapat menyampaikan keberatan
ke IMO melalui pengajuan dokumen sebelum ketentuan itu di adopsi dan diterapkan.

Pada sidang tersebut terjadi diskusi yang intensif tentang usulan Norwey bahwa kapal
tanker chemical dibawah 20.000 dwt harus dilengkapi dengan peralatan Innert Gas
System (IGS).

Pada prinsipnya para delegasi tidak menolak usulan Norwey dengan alasan bahwa
terjadinya ledakan di kapal tanker chemical tidak tergantung dari besar kecilnya
kapal, karena kapal ukuran lebih kecil dari 20.000 dwt juga perlu dilengkapi dengan
IGS.

Banyak delegasi yang menyarankan agar dalam mengambil keputusan, sub-committee harus
hati-hati karena terdapat unsure ekonomi apabila hal ini diterapkan.

Selain itu, faktor manusia menunjukkan bukti terjadinya ledakan di kapal tanker
chemical, dengan dilengkapinya IGS belum dapat menjamin kapal terhindar dari bahaya
ledakan tanpa memperhatikan faktor manusia baik di kapal maupun di darat.

Menurut Hadi Supriyono, menjadi perhatian Delegasi Indonesia apabila usulan ini
berkembang lebih jauh dan akhirnya diberlakukan tidak hanya terhadap kapal baru,
tetapi juga terhadap kapal yang sudah ada (existing ship).

Untuk itu perlu menjadi perhatian bagi Pemerintah Indonesia untuk menyampaikan
secara dini kepada semua pemilik, pengusaha dan operator kapal nasional
mengantisipasi konsekuensi yang akan terjadi terhadap armada nasional.  (KJPL)
 
< Prev   Next >